Meski Berpeluang Besar, Ini 6 Risiko yang Mungkin Didapat dari Program Bayi Tabung

Risiko Program Bayi Tabung

11 Oktober 2021

Photo by Polina Tankilevitch via https://www.pexels.com

Program bayi tabung merupakan salah satu cara yang dilakukan pasangan demi mendapatkan momongan. Meski biayanya terbilang mahal, namun bukan berati nggak ada risiko-risiko di dalam pelaksanannya. Program bayi tabung pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1988. Pada waktu itu, tim dokter sedang melakukan operasi pemindahan sel telur dari ovarium dan membuahinya dengan sel sperma di luar tubuh seorang perempuan pemilik sel telur tersebut.

Meski sejak saat diperkenalkan, program bayi tabung banyak diminati, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Misalnya bahwa program bayi tabung juga ada risikonya. Untuk itu, sangat penting dipertimbangkan oleh para calon orang tua. Akan lebih baik jika dikonsultasikan dengan dokter terlebih dulu karena ada beberapa kasus program bayi tabung yang ternyata berisiko bagi ibu maupun janin.

1.Terjadinya kehamilan bayi kembar yang nggak bisa diprediksi sebelumnya

Photo by mikoto.raw Photographer from Pexels

Program bayi tabung juga memungkinkan terjadinya risiko kehamilan lebih dari satu bayi. Bahkan nggak hanya bayi kembar tetapi juga bisa sekali hamil melahirkan bayi 3 secara bersamaan. Kehamilan lebih dari 1 bayi tentunya berbahaya bagi keselamatan ibu dan bayinya jika nggak diketahui dari awal. Hal ini akan memunculkan risiko bayi lahir prematur maupun meninggal saat dalam kandungan.

2.Risiko terjadinya keguguran berkisar antara 15-25% terutama jika nggak dibarengi dengan istrirahat yang cukup

Photo by Pavel Danilyuk from Pexels

Hanya karena biaya program bayi tabung sangat mahal bukan berarti aman tanpa risiko. Buktinya masih ada sekitar 15-25% ibu hamil keguguran karena menjalani program tersebut. Namun risiko keguguran juga akan lebih tinggi seiring dengan usia si ibu saat menjalani program bayi tabung.

3.Gangguan pada siklus haid karena obat yang diberikan selama program bayi tabung

Photo by Sora Shimazaki from Pexels

Pada umumnya, mereka yang menjalani program bayi tabung akan mengalami terlambat datang bulan. Selain itu, masa waktu haid juga berlangsung lebih lama dari biasanya dan darah haid juga lebih banyak. Gangguan siklus ini akan berlangsung selama 3 hingga 4 bulan sejak prosedur bayi tabung selesai.

4.Terjadinya kehamilan di luar kandungan

Photo by Jonas Kakaroto from Pexels

Kehamilan di luar kandungan terjadi ketika embrio terbentuk dan tumbuh di luar lubang rahim. Ini biasanya dialami oleh ibu hamil yang mempunyai masalah dengan saluran fallopiannya. Risiko ini memungkinkan bayi nggak bisa bertahan hidup karena berada di luar rahim. Selain itu juga berdampak serius bagi si ibu.

5.Risiko ketidaksuburan pada keturunannya khususnya ketika melahirkan bayi laki-laki

Photo by Nadezhda Moryak from Pexels

Saat bayi yang dilahirkan dari program bayi tabung berjenis kelamin laki-laki, maka akan mewarisi masalah ketidaksuburan sperma dari si ayah. Untuk itu sangat penting untuk berkonsultasi kepada dokter terlebih dulu tentang kesuburan keduanya sehingga dapat mengantisipasi lebih cepat tentang masalah infertilitas pada bayi laki-laki yang dilahirkan.

6.Memungkinkan risiko disabilitas pada anak

Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Hasil dari program bayi tabung juga dapat menyebabkan disabilitas pada anak. Hal ini bisa disebabkan karena sel sperma yang mengalami kerusakan sehingga bayi yang dihasilkan pun juga kurang sempurna. Meski kasusnya belum banyak, namun bisa menjadi pertimbangan bagi pasangan yang ingin melakukan progra bayi tabung.

Usaha untuk mendapatkan momongan juga bisa dilakukan dengan program bayi tabung. Akan tetapi juga ada risikonya. Penting bagi pasangan untuk mengetahui risiko tersebut agar nggak menyesal di kemudian hari. Itulah berbagai risiko yang akan dialami saat menjalankan program bayi tabung, namun bukan berarti harus menyurutkan semangat Moms semua yang kini sedang berjuang, ya!