Perlu Diketahui, Ini 6 Risiko Hamil di Bawah Usia 18 Tahun

Risiko Hamil di Bawah Umur

03 Desember 2021

Photo by Nataliya Vaitkevich from Pexels via https://www.pexels.com

Pernikahan dini masih seringkali terjadi di Indonesia. Hal tersebut tentunya menyebabkan tingkat kehamilan juga tinggi khususnya bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Menurut data yang dihimpun dari UNICEF, pada tahun 2018, ada sekitar 1,2 juta wanita yang menikah di usia kurang dari 18 tahun dan ada sekitar 432 ribu di antaranya sudah hamil pada usia 18 tahun atau lebih muda. Padahal, usia kehamilan yang terlalu muda tentunya menyebabkan beberapa risiko.

Pasalnya, kehamilan usia muda nggak hanya berdampak secara ekonomi yang tergolong belum mapan. Namun juga kondisi kesehatan reproduksi wanita yang belum matang. Mereka juga belum memiliki kesiapan secara mental untuk mengemban tanggung jawab menjadi seorang ibu. Idealnya, jika dibandingkan dengan wanita yang hamil di umur 20-30 tahun, mereka yang hamil terlalu muda di usia kurang dari 18 tahun cenderung berisiko mengalami gangguan baik pada ibu maupun bayi.

1. Adanya komplikasi selama kehamilan

Idealnya, wanita siap mengandung pada usia 21-35 tahun. Ketika mereka hamil di usia yang belum cukup matang yaitu di bawah 18 tahun, maka akan rentan terkena darah tinggi meski sebelumnya nggak ada riwayat darah tinggi. Preeklamsia dan gangguan kesehatan lain juga menghantui wanita yang hamil di bawah usia 18 tahun.

2. Kematian pada ibu dan bayi

Bagi wanita yang hamil di usia kurang dari 18 tahun cenderung berisiko tinggi seperti kematian pada ibu dan bayi. Hal tersebut karena reproduksinya yang belum matang dalam menjalani kelahiran. Salah satu penyebabnya adalah panggul yang sempit. Bahkan juga berisiko kematian bayi sangat tinggi karena nutrisinya yang kurang terpenuhi. Mereka masih terlalu muda sehingga belum terlalu memikirkan kesehatan janin ketika hamil.

3. Berisiko tinggi bayi lahir prematur

Karena kurangnya pengetahuan seputar gizi ibu selama masa kehamilan, mereka cenderung melahirkan bayi prematur. Kelahiran bayi prematur pada wanita berusia di bawah 18 tahun juga karena rahim belum sepenuhnya siap mengalami proses kehamilan. Untuk itu sangatlah penting untuk mengandung di usia yang ideal demi mengantisipasi bayi lahir prematur.

4. Risiko kelainan pada bayi

Sel telur pada wanita di bawah usia 18 tahun cenderung belum sempurna sehingga menyebabkan ketidaksempurnaan pada janin. Salah satu kemungkinan terbesarnya adalah bayi lahir cacat. Namun, jika memang sedang hamil pada usia di bawah 18 tahun, maka perlu berkonsultasi rutin dengan dokter agar kelainan pada bayi sejak dalam kandungan bisa segera ditangani. Sayangnya, wanita yang hamil di usia terlalu muda cenderung kurang pengetahuan seputar kesehatan bayi sehingga bayi lahir dengan kelainan.

5. Rentan terhadap penyakit menular seksual

Mereka yang berhubungan seksual di bawah usia 20 tahun lebih rentan mengalami penyakit menular seperti HIV, sifilis, klamidia, herpes dan penyakit seksual lainnya. Bahayanya, penyakit seksual ternyata nggak bisa diobati dan menyebabkan komplikasi pada kehamilan.

6. Ibu depresi pasca melahirkan

Hormon yang terjadi pada ibu hamil memang nggak stabil. Apalagi jika usianya masih terlalu muda, antara siap dan nggak siap menjadi orang tua sehingga menyebabkan depresi setelah melahirkan. Ditambah lagi dengan usia yang labil sehingga tingkat depresi dan stres lebih besar dibanding mereka yang melahirkan di usia ideal.

Itulah beberapa risiko yang akan dialami oleh mereka yang hamil di bawah usia 18 tahun. Pentingnya pendidikan seks sejak dini juga sangat penting untuk meminimalisir orang yang nekat ingin menikah di bawah usia 18 tahun. Semoga bermanfaat ya!