Tips Mengajarkan Problem Solving pada Anak Sejak Dini

Ternyata, kemampuan memecahkan masalah merupakan keterampilan penting yang mesti diajarkan sejak dini!

01 Maret 2022

Pict form Pexels.com via ://

Apa yang biasanya Moms dan Dads lakukan jika anak melakukan kesalahan? Marah dan memberikan hukuman mungkin menjadi reaksi paling umum yang dilakan para orangtua. Padahal, menurut empoweringparents.com, hukuman sama sekali tidak membantu anak memahami konsekuensi dan menyadari kesalahannya. Malahan, hukuman akan membuat anak menyimpan kemarahan pada orangtua dan anak akan cenderung mengulangi perilaku buruknya di masa yang akan datang. Jadi, anak sama sekali tidak belajar bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak belajar bertanggung jawab pada kesalahannya? Sikap tanggung jawab dan menyadari kesalahan ternyata bukanlah hal yang akan otomatis dikuasai anak. Salah satu hal yang dapat orangtua lakukan adalah mengajarkan keterampilan pemecahan masalah atau problem solving. Kalau masih bingung, inilah 5 tahapan mengajarkan anak keterampilan pemecahan masalah yang dapat Moms dan Dads lakukan.

1. Jadilah orangtua yang memvalidasi perasaan anak

membelai anak
Penting untuk memvalidasi perasaan anak | Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Sebelum emosi menguasai perasaan Moms dan Dads, tarik napas terlebih dahulu dan berikan waktu diskusi untuk anak. Anak yang melakukan kesalahan bisa jadi juga merasa buruk akan dirinya sendiri. Mintalah anak menjelaskan situasi dari sudut pandangnya serta perasaannya terkait masalah tersebut. Terima perasaan anak. Katakan bahwa Moms dan Dads tahu bahwa ia mungkin merasa sedih, malu, atau takut saat ini. Memberikan validasi pada perasaan anak akan membantunya untuk terbuka dan mau mencari solusi bersama di tahapan berikutnya.

2. Tunjukan bahwa kita mendengarkan anak dengan mengulang kembali pernyataannya

mengobrol dengan anak
Beri anak kesempatan menjelaskan | Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Setelah anak selesai bercerita, tunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkannya. Tahapan ini dapat Moms atau Dads lakukan dengan cara merangkum kembali pernyataan anak dengan kalimat yang lebih sederhana.

3. Jelaskan perasaan Moms dan Dads saat ia melakukan kesalahan

ibh tersenyum pada putrinya
Jelaskan perasaan orangtua tanpa menasihati | Photo by Pavel Danilyuk from Pexels

Sebelum meminta anak mencari solusi, jelaskan perasaan Moms atau Dads terkait masalah yang dihadapi anak. Hal ini untuk membuat anak tahu bahwa ada hal yang perlu ia perbaiki dari tindakannya. Hindari terburu-buru memberikan nasihat. Biasanya, tahapan problem solving terhenti di bagian ini karena Moms atau Dads langsung menasihati tanpa membiarkan anak berpikir terlebih dahulu. Padahal, belum tentu solusi tersebut disukai oleh anak hingga ia terpaksa melakukannya.

4. Minta anak untuk menulis atau menggambar beberapa alternatif solusi dari masalah yang ia hadapai

balita menulis
Biarkan anak merencanakan penyelesaian masalah secara mandiri | Photo by Gustavo Fring from Pexels

Jika anak sudah bisa menulis atau menggambar, mintalah ia untuk menuliskan beberapa cara mengatasi masalah menurut sudut pandangnya. Moms atau Dads dapat membantu untuk anak yang belum bisa menulis.

Untuk melatih kemampuan pemecahan masalah, jangan langsung memberikan kritik pada solusi yang diberikan anak, ya. Biarkan anak menuliskan solusi sebanyak-banyaknya. Hal ini akan membuat anak merasa pendapatnya dihargai.

5. Diskusikan rencana penerapan solusi bersama anak

Diskusi dengan anak
Bantu anak memikirkan ulang solusi yang ditulisnya | Photo by Gustavo Fring from Pexels

Setelah anak memiliki beberapa alternatif solusi dari masalahnya, diskusikan rencana penerapannya. Di tahapan ini, Moms dan Dads dapat menjelaskan kemungkinan yang akan ia hadapi dari setiap solusi yang ia miliki. Meski begitu, tetap biarkan anak memilih solusi terbaik yang akan ia lakukan.

Melatih keterampilan pemecahan masalah seperti di atas bisa Moms atau Dads lakukan di usia 5 tahun ke atas. Menurut scholastic.com, pada usia ini anak sudah memiliki kemampuan komunikasi dan visualisasi yang cukup untuk mencari solusi dari sebuah masalah. Mereka bisa membayangkan solusi dari permasalahan tanpa betul-betul melakukannya.

Melatih keterampilan pemecahan masalah memang bukan perkara mudah. Orang tua pun mesti konsisten dalam menerapkannya agar anak bisa mengambil manfaat dari keterampilan ini. Selain membantu anak untuk bertanggung jawab, kemampuan memecahkan masalah merupakan salah satu keterampilan penting yang mesti dimiliki anak untuk sukses di masa mendatang. Jadi, meski menantang, jangan lekas menyerah untuk membantu anak berlatih keterampilan ini secara konsisten, ya!