Bagaimana pun Kondisinya, Menjadi Ibu Adalah Sebuah Perjuangan

Membandingkan kondisi dengan ibu lain hanya akan membuatmu makin menderita!

18 Februari 2022

Foto oleh Jonathan Borba dari Pexels via http://Pexels.com

Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh berita mengenai mertua seorang influencer ternama yang memintanya melahirkan secara “normal” agar dapat memiliki banyak anak. Kritikan publik kepada sang mertua pun membanjiri media sosial. Tudingan mengenai kelahiran sectio caesaria sebagai proses kelahiran yang tidak normal dianggap mengecilkan peran ibu yang tidak melahirkan secara pervaginam.

Dikotomi normal atau tidak normal semacam itu pun tidak hanya ditemui saat membicarakan proses melahirkan. Ada banyak peran dan tantangan lain yang mesti dihadapi Moms untuk dianggap ibu yang sesuai standar. Inilah beberapa hal yang sering menjadi bahan perbandingan untuk menilai peran ibu yang dianggap normal dan tidak normal oleh sebagian besar masyarakat.

1. Proses persalinan pervaginam ataupun sectio caesaria, keduanya sama-sama normal!

melahirkan
Ibu melahirkan | Foto oleh Jonathan Borba dari Pexels

Persalinan pervaginam maupun sectio caesaria sama-sama memiliki risiko. Tidak ada yang lebih mudah karena keduanya sama-sama mempertaruhkan nyawa ibu. Dokter pun tidak akan sembarangan merujuk pasien untuk persalinan sectio caesaria tanpa indikasi kesehatan tertentu. Terbukti sejak ditemukannya teknologi persalinan sectio caesaria, angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan. Jadi, tidak sepatutnya persalinan sectio caesaria dianggap sebagai persalinan tidak normal, terutama jika dilakukan demi keselamatan ibu dan bayi.

2. Memberikan ASI, ASIP, maupun sufor, semuanya tetap memiliki tantangan

Ibu memberi susu
Ibu memberi susu pada bayi | Foto oleh Sarah Chai dari Pexels

Setelah melahirkan, seorang ibu tentu ingin memberikan ASI kepada sang buah hati. Namun, perjalanan menyusui ternyata berliku dan penuh tantangan. Ibu yang bekerja pun mau tidak mau mesti memberikan ASI Perah (ASIP) bahkan tidak jarang melengkapinya dengan susu formula. Setiap ibu memiliki kondisinya masing-masing. Tidak ada yang lebih mudah dari memberikan ASI, ASIP, ataupun sufor. Jadi, tetaplah hargai perjuangan ibu yang berusaha memberikan asupan terbaik untuk buah hatinya.

3. Mengasuh anak penuh waktu atau dibantu pengasuh, sosok ibu tetap tidak akan tergantikan

ibu dan anak
Ungkapan kasih sayang antara ibu dan anak | Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Anggapan bahwa ibu yang sempurna adalah ibu yang mengurus anaknya penuh waktu tampaknya mesti dipertimbangkan kembali. Ibu yang mengasuh penuh waktu maupun dibantu pengasuh, pasti tetap menyayangi anaknya sepenuh hati. Tidak ada yang dapat menggantikan sosok ibu di hati anaknya, begitu pun sebaliknya.

4. Membesarkan satu anak bukan berarti lebih mudah dibandingkan membesarkan banyak anak

tiga anak bermain
Tiga balita bermain bersama | Foto oleh Yan Krukov dari Pexels

Sebagai pemilik rahim, kesempurnaan sosok perempuan seringkali dinilai dari jumlah anak yang ia lahirkan. Sukses membesarkan banyak anak dianggap sebagai pencapaian tertinggi yang patut dibanggakan. Padahal, membesarkan satu anak tidaklah lebih mudah dibandingkan membesarkan banyak anak. Ada banyak faktor seperti sosial, ekonomi, dan budaya yang berpengaruh pada tantangan pendidikan pengasuhan di setiap keluarga.

Jadi, jangan bandingkan perjuangan Moms dengan satu anak dengan Moms yang memiliki banyak anak. Semua punya kesulitan dan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Lagi pula, keputusan untuk memiliki satu atau banyak anak sepenuhnya ada di tangan pasangan, terutama Moms yang menjalani kehamilan dan melahirkan. Jangan sampai standar masyarakat membuat pasangan memiliki anak di luar batas kemampuan, ya!

Pada akhirnya, semua perdebatan mengenai normal tidak normal selalu kembali pada budaya dan standar yang dianut oleh masyarakat. Namun, hal yang perlu diingat adalah bagaimanapun kondisinya, setiap ibu memiliki jalan perjuangannya sendiri-sendiri serta berhak menentukan yang terbaik untuk dirinya dan si buah hati. Label normal dan tidak normal tidak sepatutnya dilekatkan untuk menilai besarnya perjuangan ibu karena seorang ibu pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya.

Mari tunjukkan empati dengan tidak mengecilkan peran dan jalan yang dipilih oleh Moms lainnya, ya!