Pahami Pentingnya Pemeriksaan pada Bayi Baru Lahir

Deteksi dini kelainan pada bayi baru lahir akan memudahkan bayi mendapat penanganan yang optimal!

14 Maret 2022

Sesaat setelah lahir, bayi akan menjalani serangkaian pemeriksaan dan tes kesehatan | Foto oleh Vidal Balielo Jr. dari Pexels via ://

Sesaat setelah bayi baru lahir, tubuhnya akan belajar beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim. Pada fase ini, penting untuk bayi menjalani serangkaian tes kesehatan untuk memastikan kesehatan bayi serta fungsi organ tubuhnya. Hal ini diperlukan untuk deteksi dini kelainan yang mungkin diderita bayi. Semakin dini kelainan pada bayi baru lahir terdeteksi, maka penanganannya pun akan semakin optimal.

Skrining kondisi fisik dan organ pada bayi umumnya memang langsung dilakukan oleh dokter anak atau tenaga medis yang menemani persalinan. Setelahnya, Moms dan Dads biasanya akan mendapat laporan tesnya. Namun, terdapat beberapa kondisi bayi yang mungkin membuat Moms dan Dads harus meminta tenaga kesehatan mengulangi tes tersebut. Untuk itu, yuk, pahami pemeriksaan yang perlu dilakukan pada bayi baru lahir!

1. Tes APGAR dilakukan untuk mengecek kesehatan bayi setelah 1 menit lahir ke dunia

pengecekan bayi
Sesaat setelah lahir, bayi akan menjalani serangkaian pemeriksaan dan tes kesehatan | Foto oleh Vidal Balielo Jr. dari Pexels

APGAR merupakan akronim dari Appearance (warna kulit bayi), Pulse (frekuensi denyut jantung), Grimace refleks spontas dari rangsangan), Activity (aktivitas otot) , dan Respiration (usaha bernapas berdasarkan kekuatan tangisan).

Tes ini biasanya langsung dilakukan oleh dokter anak sesaat setelah bayi baru lahir dan akan diulangi setelah 5 menit bayi lahir ke dunia. Setiap indikator APGAR akan diberi nilai antara 0 jika tidak ada reaksi atau reaksi buruk hingga 2 poin jika kondisi bayi sangat bagus.

Jika total skor bayi di atas 7, bayi dianggap mampu beradaptasi dengan baik. Namun, jika bawah 7, maka bayi memerlukan bantuan untuk beradaptasi di luar rahim. Tes APGAR pun akan diulangi pada menit ke-10 dan terus diulangi setiap 5 menit hingga bayi menunjukkan respons yang baik dan mencapai total skor di atas 7.

2. Tes bilirubin dilakukan untuk mendeteksi bayi kuning

bayi baru lahir
Terapi sinar biru perlu dilakukan untuk bayi yang mengalami hiperbilirubin | Foto oleh Vidal Balielo Jr. dari Pexels

Kuning atau jaundice sebetulnya hal yang cukup umum dialami oleh bayi baru lahir. Hal ini biasa terjadi karena organ hati bayi belum berfungsi dengan sempurna. Bilirubin sendiri akan keluar melalui feses dan urin bayi. Namun, di awal kelahiran, Moms dan bayi biasanya masih dalam proses belajar menyusui sehingga pengeluaran bilirubin kurang optimal.

Penumpukkan kadar bilirubin pada tubuh bayi akan mengakibatkan bayi tampak lemas, terus mengantuk, dan malas menyusu. Secara fisik, kulit dan mata bayi juga akan terlihat kuning. Untuk mengetahui kadar bilirubin, biasanya akan dialakukan lewat tes darah. Jika kadar bilirubin bayi yang berusia di atas 3 hari mencapai 18mg/dl, biasanya dokter akan merujuk bayi untuk mendapatkan terapi sinar biru dengan tetap memberikan ASI.

Hiperbilirubin sendiri dapat menyebabkan kejang hingga kematin pada bayi. Secara jangka panjang, bilirubin dapat menggangu sistem saraf dan mengakibatkan kelumpuhan.

3. Pemeriksaan mata lanjutan sebaiknya dilakukan pada bayi dengan berat lahir rendah atau prematur

bayi menatap
Bayi prematur sebaiknya jalani pemeriksaan mata lanjutan | Foto oleh Migs Reyes dari Pexels

Saat bayi baru lahir, biasanya dokter anak akan langsung melakukan pengecekan dengan cara mneyorotkan sinar ke arah mata. Jika penglihatan bayi normal, ia pasti akan bereaksi pada cahaya. Meski demikian, jika Moms melahirkan pada usia kandungan kurang dari 34 minggu atau bayi terlahir dengan berat 1,5kg, bayi disyaratkan untuk melakukan pemeriksaan mata lanjutan.

4. Beberapa kondisi bayi di bawah ini perlu mendapat pemantauan tes pendengaran

newborn
Bayi dengan kondisi tertentu perlu pemantauan kondisi pendengaran | Foto oleh Vidal Balielo Jr. dari Pexels

Bayi  berusia 2 hari hingga di bawah 1 bulan, dianjurkan untuk melakukan tes pendengaran. Meski hasilnya normal, jika bayi memiliki beberapa kondisi berikut ini maka sebaiknya bayi mendapat pengawasan mengenai kondisi pendegarannya. Beberapa kondiri tersebut adalah riwayat keluarga yang terlahir tuli, bayi yang terinfeksi TORCH atau meningitis, bayi dengan berat lahir sangat rendah, bayi yang tidak menangis saat lahir, dan bayi yang mengalami kelainan kepala dan leher.

5. Pemeriksaan hormon tiroid penting dilakukan untuk mendeteksi hipotiroid kongenital

kaki bayi
Sampel darah biasanya akan diambil lewat tumit bayi | Foto oleh Dominika Roseclay dari Pexels

Hipotiroid kongenital adalah kondisi rendahnya kadar hormon tiroid pada bayi akibat gangguan fungsi tiroid sejak lahir. Pemeriksaan hormon tiroid sebaiknya dilakukan saat bayi berusia 2 hingga 7 hari lewat pengambilan sampel darah.

Kondisi hipotiroid kongenital yang tidak mendapat penanganan sejak dini akan menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak. Jika si kecil mengalami hipotiroid kongenital, Moms dan Dads perlu rutin kontrol ke dokter untuk memastikan kadar hormon tiroksin selama menjalani pengobatan.

Itulah beberapa jenis pemeriksaan kesehatan pada bayi yang perlu Moms dan Dads pahami. Selain 5 jenis tes di atas, masih ada banyak prosedur pemeriksaan kesehatan yang pasti dilakukan oleh tenaga medis saat si kecil lahir.

Pastikan Moms dan Dads mengetahui hasil pengecekan tersebut dan jangan segan untuk meminta dokter menjelaskannya jika ada yang kurang dipahami. Keterlambatan dalam mendeteksi kelainan yang dialami bayi bisa berakibat fatal. Untuk itu, pastikan tidak melewatkan setiap pemeriksaan tersebut dan memahaminya, ya!