6 Parenting Jadul yang Sudah Saatnya Diubah

Parenting Jadul yang Harus Diubah

25 Desember 2021

Photo by Kampus Production from Pexels via ://

Pola asuh dari masa ke masa tentunya sudah sangat berbeda. Moms nggak bisa menerapkan parenting ke anak seperti yang dilakukan ibu ketika Moms masih kecil. Di lihat dari zamannya juga sudah berbeda sehingga harus lebih explore dengan ilmu parenting masa kini. Meski nggak semua parenting jadul itu buruk, tetap saja perlu adanya inovasi karena ilmu pengetahuan pun sudah berkembang ke arah yang lebih baik.

Bukannya ingin membanding-bandingkan antara parenting yang sekarang dengan yang zaman dulu, hanya saja sudah keduanya sudah berbeda. Banyak parenting zaman dulu yang seharusnya nggak diterapkan saat ini karena dianggap terlalu berisiko, misalnya membedong bayi kencang-kencang atau menggunakan baby walker.

Seperti apa tipe parenting jadul yang harus diubah?

1. Melarang keras anak menangis dan akan dimarahi jika melakukannya

Orang tua zaman dulu seringkali menyebut si cengeng kalau ada anak sering menangis. Padahal, bagi anak-anak yang sering menangis karena hal-hal sepele juga bukan soal cengeng tapi lebih ke cara mereka mengekspresikan emosi. Hal ini justru bagus daripada diam saja dan akhirnya malah menjadi beban pikiran bagi anak.

2. Mewajarkan segala yang anak lakukan, padahal jelas salah dan merugikan

Terkadang tingkah laku anak yang kita anggap biasa seringkali kurang membuat orang lain kurang nyaman. Ujung-ujungnya orang tua zaman dulu selalu bilang, “Ya wajar lah namanya juga anak-anak”. Jika pola asuh tersebut masih diterapkan oleh orang tua masa kini, sebaiknya diubah. Jangan mentang-mentang anak-anak lalu bisa berperilaku seenaknya. Ajarkan anak cara bersikap agar nggak merugikan orang lain.

3. Memanjakan anak dengan banyak mainan, tapi nggak ada niatan untuk menemani dan mendampinginya

Mungkin orang tua zaman dulu terlalu sibuk dan nggak sempat mengajarkan anak banyak hal sehingga lebih condong ke mainan edukatif. Memberikan mainan yang edukatif pada anak juga nggak salah kok Moms. Namun perlu dipahami bahwa masalahnya bukan pada apa mainannya, tetapi dengan siapa si anak bermain. Tanpa pendapingan orang tua, maka mainan mahal pun juga nggak ada artinya. Sebaiknya luangkan waktu untuk ikut anak bermain ya Moms, itu jauh lebih berharga.

4. Mendoktrin anak perempuan agar bisa melakukan urusan perdapuran, bahkan dengan paksaan

Di zaman Moms kecil tentunya sering mendengar dari Tante kalau anak perempuan harus paham bumbu dapur, bisa beberes rumah dan harus belajar masak. Pada kenyataannya, semua itu bukan tugas perempuan sehingga Moms juga nggak ada salahnya ketika mengajarkan anak laki-laki beberes hingga memasak. Dengan begitu akan ada kesetaraan gender di sini.

5. Membedakan permainan anak laki-laki dan perempuan pada saat anak ingin mengeksplor kemampuannya

Moms ingat nggak? Dulu waktu kecil pasti sering dibelikan boneka dan peralatan masak-masakan karena mainan tersebut identik dengan anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki paling sering diberi hadiah mobil-mobilan, pistol-pistolan dan mainan lain yang identik dengan anak laki-laki. Namun, sekarang semua berubah. Anak perempuan juga banyak yang memiliki koleksi mainan mobil-mobilan dan main bola. Orang tua masa kini cenderung memberi kebebasan pada anak untuk memilih apa yang disukainya.

6. Membedong anak sekencang-kencangnya dengan dalih “supaya bayinya hangat” dan “kaki atau tangannya nggak bengkok”

Kebiasaan membedong bayi sekencang-kencangnya bukanlah hal baik. Apalagi jika urusannya dengan hangatnya tubuh bayi, hal ini bisa disiasti dengan menyelumutinya. Atau, jika alasannya adalah membuat tangan dan kaki anak menjadi lurus, hal ini sama sekali nggak bisa dibenarkan. Membedong kencang justru akan menghambat kemampuan motorik anak ke depannya.

Zaman sekarang sudah semakin modern dan tekonologi semakin berkembang. Hal ini pasti sangat memudahkan orang tau milenial untuk belajar ilmu parenting dari mana saja, salah satunya melalui media sosial. Banyak tips seputar parenting yang bisa Moms dapatkan agar anak tumbuh di zamannya. Zaman kita kecil dengan zaman anak sekarang sudah berbeda, jadi sudah saatnya mengembangkannya!