5 Usaha yang Bisa Dilakukan untuk Memperbaiki Mental Anak Setelah Dimarahi

Memperbaiki Mental Anak

24 November 2021

Photo by RODNAE Productions via https://www.pexels.com

Anak yang sering dimarahi biasanya akan tumbuh menjadi anak yang menutup diri dan cenderung penakut. Mereka merasa bahwa apa yang akan dilakukannya selalu salah sehingga lebih banyak menarik diri dari pergaulan. Dampak tersebut terjadi karena masalah sepele, yaitu seringnya orang tua memarahi anak. Hati-hati ya Moms, hal yang dianggap sepele seringkali berdampak hingga ia besar, lo.

Ada kalanya, orang tua merasa lelah dan emosi menahan kelakukan anak yang terus-terusan melakukan kesalahan. Tanpa sadar lalu membentaknya, bahkan ada yang sampai mencubitnya. Perilaku orang tua tersebut tentunya menganggu pertumbuhan anak. Mereka bisa mengalami trauma secara psikologis bahkan depresi di masa depan.

Moms pastinya nggak mau kan, kalau si kecil memiliki gangguan mental lantaran sering dimarahi. Yuk, Moms, mulai sekarang perbaiki ego dan harus lebih banyak sabar. Pasalnya, karakter anak nantinya juga akan dipengaruhi bagaimana orang tua mendidiknya. Kalau sering memarahinya karena kurang sabar, Moms bisa memperbaikinya dengan cara berikut ini!

1. Meminta maaf pada anak. Katakan padanya kalau Moms benar-benar menyesal dan nggak akan mengulanginya lagi

Jangan gengsi untuk meminta maaf pada anak. Terlebih jika memang menyakiti perasaannya. Mereka juga pasti paham kalau orang bisa melakukan kesalahan. Dengan meminta maaf juga akan membuat luka di hati anak perlahan sembuh. Mereka juga akan introspeksi diri untuk nggak melakukan kesalahan yang membuat orang tua lepas kendali.

2. Menunjukkan kalau Moms benar-benar menyayanginya. Meski pernah membentaknya, namun Moms bisa memeluk dan menciumnya sebagai rasa penyesalan

Kontak fisik antara ibu anak mampu memberikan ikatan yang kuat sehingga akan membuat anak merasa istimewa. Berikan pelukan atau ciuman saat mereka akan tidur khususnya setelah Moms khilaf memarahinya. Hal tersebut akan membuat anak merasa disayang dan mampu menyembuhkan lukanya.

3. Memperbaiki komunikasi dengan anak. Jangan sampai setelah memarahi anak, mereka merasa takut dekat dengan orang tuanya

Salah satu cara memperbaiki komunikasi dengan anak adalah dengan menceritakan apa yang Moms lakukan. Misalnya, “Mama hari ini masak cemilan kesukaan adek, suka kan?”. Ajak mereka komunikasi sambil duduk bersama. Moms juga bisa menanyakan apa yang akan dilakukan si kecil di hari itu. Interaksi kecil seperti itu tentunya mampu mengembalikan kepercayaan si kecil pada orang tuanya sehingga akan kembali dekat.

4. Lebih memahami karakter anak dan membiarkan mereka mengekspresikan perasaannya. Paham dengan karakter anak akan memudahkan orang tua dalam menentukan pola asuh yang tepat

Mungkin selama ini Moms kurang bisa memahami bagaimana karakter anak sehingga cara didiknya pun juga kurang pas. Setiap anak punya karakter yang berbeda sehingga dibutuhkan “strategi khusus” dalam mendidiknya. Biarkan ia mengekpresikan perasaannya. Misalnya, jangan meminta anak diam ketika ia sedang menangis. Mungkin dengan menangis bisa memperbaiki emosinya menjadi lebih stabil.

5. Lebih banyak meluangkan waktu untuk anak. Meluangkan waktu dengan anak merupakan hal sederhana tapi sangat berharga

Pasalnya, anak-anak lebih membutuhkan kehadiran orang tua yang menemaninya dengan mainan sederhana dibanding mainan mahal dan nggak ada waktu untuk anak. Selain itu, meluangkan waktu dengan anak juga akan juga meningkatkan ikatan emosi keduanya. Dengan begitu, orang tua akan lebih mengenal anak dan minim untuk memarahinya.

Mendidik anak memang harus dilakukan sejak kecil. Meskipun sulit dan banyak tantangannya, tapi percayalah, Moms akan bangga ketika mereka tumbuh menjadi anak-anak hebat dan berkarakter. Rasa lelah memang selalu ada sehingga membuat kita sebagai orang tua lepas kendali dan memarahinya ketika terus-terusan melakukan kesalahan. Namun, Moms bisa memperbaiki mental anak dengan cara yang sudah Mamin share. Semoga bermanfaat ya, Moms!