Kisah Nyata Ibu Sisilia; 4 Kali Kuretase dan Perjuangannya untuk Kembali Memiliki Anak

Kisah nyata Ibu Sisilia

07 Oktober 2021

Photo by Freepik.com via https://www.freepik.com

Ini merupakan artikel hasil wawancara dengan Ibu Sisilia, seorang ibu yang berjuang setelah 4 kali kuretase dan kini sedang dalam ikhtiarnya untuk memiliki anak kembali. Seperti apa kisah lengkapnya?

Kuretase merupakan sebuah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Pada umumnya kuret diawali dengan dilatasi, ini merupakan tindakan untuk melebarkan leher rahim (serviks). Itulah mengapa prosedur tersebut seringkali disebut dengan dilatasi dan kuretase. Kuret juga dilakukan untuk mengeluarkan janin yang meninggal akibat keguguran. Selain itu juga untuk mengeluarkan plasenta yang masih menempel dalam rahim setelah persalinan.

Sebelumnya, mari cari tahu dulu kondisi seperti apa saja yang mengharuskan untuk kuretase selain mengeluarkan janin yang meninggal dalam kandungan

Photo by MART PRODUCTION from Pexels

Setelah tahu apa itu kuretase, tentunya akan muncul pertanyaan, apa saja kondisi lain yang memerlukan prosedur untuk kuret? Medis biasanya akan melakukan prosedur kuretase jika perempuan mengalami keluhan seperti pendarahan di luar siklus menstruasi, pendarahan vagina dalam jumlah banyak ketika menstruasi, nyeri saat berhubungan intim dan pendarahan setelah menopause.

Kuret juga bisa dilakukan untuk menangani kondisi tertentu seperti mengeluarkan gumpalan darah dan jaringan di dalam rahim yang disebabkan oleh kehamilan mola atau yang sering disebut dengan hamil anggur. Selain itu, kuret juga digunakan untuk mengangkat tumor fibroid jinak yang terbentuk pada dinding rahim dan membersihkan jaringan yang tersisa (misalnya setelah terjadi keguguran atau setelah prosedur aborsi).

Apa saja yang harus dipahami sebelum menjalankan kuretase?

Photo by MART PRODUCTION from Pexels

Kuretase dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terlebih dulu. Hal tersebut untuk mengetahui riwayat pasien. Pasien harus jujur dengan berbagai alergi yang dimiliki. Jika kondisinya bagus, maka pasien akan diminta berpuasa selama 6-8 jam sebelum tindakan.

Prosedur kuret bisa dimulai dengan 2 tahapan, yang pertama adalah dilatasi. Ini adalah proses pelebaran rahim untuk memudahkan proses kuret. Prosedur yang kedua adalah kuretase. Setelah dilakukan kuret, maka pasien akan dipantau selama beberapa jam untuk memastikan tidak adanya pendarahan atau infeksi setelah kuret. Jika nggak ada efek samping, maka bisa langsung pulang dan dapat melakukan aktivitas seperti biasa setelah 24 jam.

Kisah nyata dari ibu Sisilia yang sudah 4 kali kuretase hingga berhasil mendapatkan momongan

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Setiap perempuan memiliki kisah yang berbeda dalam perjuangan mendapatkan momongan. Usaha mendapatkan momongan juga dialami oleh ibu Sisilia, salah satu ibu hebat yang berasal dari kota Klaten, Jawa Tengah. Sejak pernikahannya pada bulan Desember 2012, banyak perjuangan yang dialami hingga akhirnya mendapatkan buah hati yang lahir pada bulan Juli 2017.

Mamin sudah ngobrol banyak dengan ibu Sisilia dan beliau bercerita seputar perjuangannya mendapatkan momongan setelah 4 kali gagal. Semoga para ibu hebat di luar sana nggak putus asa karena belum mendapatkan momongan. Berikut kisah nyata ibu Sisilia dalam mendapatkan buah hati yang kini berusia 4 tahun.

Ibu Sisilia menikah pada tanggal Desember 2012. Sama seperti kebanyakan pasangan baru, kehadiran anak selalu ditunggu-tunggu hingga akhirnya awal tahun 2013 dinyatakan positif hamil. Hal tersebut tentunya adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi ibu Sisil, suami berserta keluarga besarnya. Namun, sayangnya pada tanggal 3 Maret 2013, bu Sisil mengalami pendarahan yang mengharuskan melakukan kuretase pada tanggal 4 Maret 2013.

Meski diselimuti rasa kehilangan yang begitu dalam, namun usaha memiliki momongan begitu kuat. Hingga akhirnya bu Sisil dinyatakan positif hamil kedua pada bulan September 2013. Kabar bahagia ini disambut dengan gembira oleh bu Sisil dan keluarga. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain. Janin yang dikandung bu Sisil ternyata nggak berkembang dan akhirnya kembali melakukan kuretase kedua pada tanggal 2 Oktober 2013.

Bu Sisil dan suami nggak pernah patah semangat meski sesekali merasakan kesedihan yang mendalam. Berbagai terapi non medis seperti pengobatan herbal hingga “dadah bayi” juga dilakukannya. Selain itu juga rutin konsultasi ke dokter kandungan hingga melakukan tes laboratorium. Dari hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa bu Sisil terjangkit virus Toxoplasma dan CMU.

Photo by RODNAE Productions from Pexels

Kegagalan dalam dua kali kehamilan kemungkinan disebabkan oleh virus Toxoplasma dan CMU. Bu Sisil akhirnya rutin melakukan pemeriksaan hingga pembersihan virus tersebut. Perjuangan terbebas dari virus juga cukup lama yaitu dari 2013 setelah dinyatakan, hingga akhirnya pada tahun 2015 dinyatakan sembuh dan terbebas dari virus Toxoplasma dan CMU.

Pada bulan Desember 2015, bu Sisil melakukan program hamil untuk kehamilan ketiganya. Puji Tuhan langsung “isi” dan kabar bahagia pun disambut oleh keluarga besar. Sayangnya, pada usia kehamilan minggu ke-10, terjadi kemunduran pertumbuhan janin. Hal ini membuat bu Sisil harus bedrest selama 2 minggu. Namun, janin tetap nggak bisa berkembang dan bu Sisil mengalami kontraksi flek. Akhirnya langsung ke IGD rumah sakit agar ditangani. Tanggal 3 Februari 2016, bu Sisil harus melakukan kuretase yang ketiga.

Sebagai pasangan yang ingin mendapatkan buah hati, bu Sisil dan suami tetap tegar dengan segala sesuatu yang sudah terjadi. Semua pasti ada hikmahnya. Perjuangan tetap dilakukan dan kembali melakukan program hamil untuk kehamilan keempatnya. Pada bulan Juli 2016, bu sisil dinyatakan positif hamil. Namun, pada usia 2 minggu kehamilan, janin nggak berkembang sehingga mengharuskan untuk kuretase yang keempat.

Photo by MART PRODUCTION from Pexels

Keinginan untuk memiliki buah hati masih terus diperjuangkannya. Pada akhir bulan Oktober 2016, bu Sisil akhirnya positif hamil untuk kehamilan kelima pada bulan Desember 2016. Selama kehamilan, puji tuhan, baik ibu dan calon bayi sehat dan nggak dinyatakan ada gangguan seperti 4 kali kehamilan sebelumnya. Perjuangan kehamilan kelima membuat bu Sisil sangat hati-hati.

Pada tanggal 6 Juli 2017, si kecil yang sudah lama dinanti kehadirannya akhirnya lahir ke dunia dengan jenis kelamin laki-laki. Si kecil dilahirkan secara caesar di usia kehamilan 36 minggu. Lahirnya si kecil merupakan perjuangan bu Sisil dalam kehamilan kelimanya.

Semua ibu selalu hebat dan memiliki cerita yang berbeda dalam perjuangan mendapatkan buah hati. Seperti halnya yang dialami bu Sisil. Perjuangan 5 tahun demi mendapatkan momongan sangat patut dijadikan inspirasi ibu di luar sana yang ingin mendapatkan buah hati. Berkat doa, usaha dan kesabaran, pasti ada hasil yang manis. Semoga bisa jadi inspirasi bagi perempuan yang saat ini sedang berjuang mendapatkan momongan.

Segala doa dan usaha nggak pernah mengkhianati karena selalu memberikan hasil yang jauh lebih manis. Sekarang si kecil sudah berusia 4 tahun dan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan membanggakan.

Semoga kisah ibu Sisil bisa dijadikan inspirasi, ya!