Sudahkah Si Kecil Siap Toilet Training? Cek 5 Tandanya di Sini!

Tanda-tanda ketika anak sudah siap toilet training bisa dicek di sini, ya!

10 Maret 2022

Biasanya, anak siap untuk buang air di toilet pada usia dua tahun | Photo by Elina Fairytale from Pexels via ://

Mengajarkan balita untuk buang air di toilet bisa jadi pekerjaan yang menantang bagi banyak orang tua. Fase ini biasanya dilewati dengan banyak drama akibat cucian yang menumpuk dan lantai yang kotor akibat anak yang belum bisa mengenali kebutuhannya ke toilet. Beberapa anak mungkin bisa melewati toilet training dalam waktu relatif singkat, tetapi tidak sedikit orangtua yang akhirnya menyerah dan kembali memilih popok.

Sebenarnya, kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak toilet training? Jika Moms dan Dads masih bingung, beberapa ciri ini mungkin bisa menjadi panduan untuk mulai melatih anak buang air di toilet.

1. Usia bukan patokan utama untuk mengenali kesiapan toilet training, tetapi umumnya anak akan siap melakukannya pada usia 2 tahun

 

anak memegang tisu toilet
Biasanya, anak siap untuk buang air di toilet pada usia dua tahun | Photo by Elina Fairytale from Pexels

Beberapa anak sudah bisa toilet training sejak usia 18 bulan, tetapi anak lainnya mungkin masih mengenakan popok meski usianya sudah lebih dari 2 tahun. Tidak ada yang salah dengan tiap kondisi tersebut. Meski begitu, para ahli menyebutkan bahwa anak yang sehat secara fisik dan psikis umumnya sudah berhenti menggunakan popok di usia TK.

2. Coba lakukan toilet training jika anak sudah menunjukkan kemampuan ini

balita dan alam
Anak yang siap toilet training sudah mampu berdiri, duduk, dan jongkok tanpa bantuan

Ada beberapa keterampilan yang mesti dikuasai si kecil sebelum mulai toilet training seperti duduk, jongkok, dan berdiri tanpa bantuan. Selain itu, anak juga mesti memiliki kemampuan membuka dan mengenakan celana sendiri untuk memudahkan proses latihan ini.

3. Cek popok anak setiap 2 jam sekali, jika masih kering tandanya anak sudah siap untuk toilet training

balita mengenakan popok
Jika dalam dua jam popoknya masih kering, anak siap toilet training | Photo by Hiền Lý from Pexels

Jika anak sudah mampu mengontrol keinginan buang air kecil selama 2 jam atau lebih, ini merupakan sinyal positif mengenai kesiapan anak toilet training. Kesiapan ini bisa juga ditunjukkan lewat tanda yang berbeda misalnya anak buru-buru melepas popok saat ingin buang air. Meski lantai berisiko kotor, jangan buru-buru marah. Bisa jadi, anak sudah tidak nyaman dengan kondisi popok yang basah dan kotor. Jangan tunda melatih anak buang air di toilet jika sudah melihat tanda ini, ya!

4. Aspek komunikasi juga berperan penting, lho untuk mengukur kesiapan anak toilet training

Mencuci tangan
Pastikan anak memahami instruksi mengenai kegiatan di kamar mandi | Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Siapa bilang latihan buang air di toilet tidak butuh kemampuan komunikasi? Untuk melancarkan fase ini, anak mesti sudah bisa mengatakan kebutuhannya menggunakan toilet. Biasanya, anak akan meniru kata yang digunakan orangtua. Jadi, jangan diam saja ketika membersihkan si kecil karena anak akan selalu belajar dari hal-hal sederhana setiap hari. Selain itu, anak juga perlu memahami instruksi sederhana terkait kebersihan yang dikatakan orangtua, seperti instruksi untuk mencuci tangan atau membersihkan diri.

5. Jika anak sudah menolak untuk mengenakan popok dan meminta beralih ke pakaian dalam biasa, berarti ia merasa dirinya sudah besar dan siap untuk buang air di toilet

baju bayi
Anak menolak popok dan ingin memakai celana dalam merupakan sinyal positif siap toilet training | Photo by Pavel Danilyuk from Pexels

Biasanya, anak balita senang sekali meniru pakaian orang dewasa di sekitarnya. Jika ia sudah menunjukkan ketertarikan untuk mengenakan celana dalam seperti Moms atau Dads, jangan tunda untuk memulai tahapan toilet training kepada anak.

Seperti fase lainnya dalam kehidupan anak, tidak ada ukuran yang pasti untuk mengukur anak menjalani toilet training. Moms dan Dads perlu memahami bahwa setiap anak dilahirkan unik dan istimewa. Jangan membandingkan kemampuan anak satu dengan anak lainnya. Sebaliknya, bantu mereka untuk lebih percaya diri menghadapi setiap fase baru dalam kehidupannya karena setiap proses tersebut akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi si kecil.