Bukan Perkara Gampang, Ini Fakta Sebenarnya yang Dialami para Ibu di Perantauan

Ibu di perantauan

31 Juli 2021

Ibu di perantauan - Credit: Shutterstock.com via https://www.shutterstock.com

Menjadi seorang ibu, terutama ibu baru di tanah rantau bukanlah perkara sederhana. Meski masih memiliki kedua orang tua dan mertua, tetap saja kemandirian menjadi yang utama. Belum lagi kalau keadaan sedang nggak bersahabat, rasanya bingung dan canggung meski hanya sekadar bertukar pendapat. Seolah harus menyelesaikan semuanya sendiri, bersama anak yang masih belum tahu apa-apa dan suami. Tapi yakinlah, segala sesuatu pasti ada titik terang, karena nggak semenyeramkan itu hidup di perantauan.

Sesepele urusan garam habis sampai gajian bulanan yang kian menipis harus dipikirkan sendiri, apalagi kalau keadaan orang tua juga masih nggak menentu

dilarang mengeluh

Sesekali, rasanya ingin berkeluh kesah soal permasalahan yang datangnya silih berganti. Tapi, rasa itu selalu tertepis dengan tema obrolan yang seketika berubah menjadi ajang kangen-kangenan antar ayah-anak atau kakek-nenek. Diri ini kembali menjadi sosok yang tangguh dan nggak mudah mengeluh, walau segala kondisi selalu nggak menentu. Ya, segala sesuatu memang sering nggak bisa diprediksi ketika sudah menjadi ibu di tanah rantau.

Teman curhat yang terbatas seringkali memicu stres, belum lagi perkara rumah berantakan yang seolah nggak pernah habis

merasa sendirian

Berbeda dengan saat di kampung halaman, di mana banyak sekali teman yang bisa diajak curhat dari mulai teman zaman sekolah hingga tetangga dekat. Tapi berbeda kalau berada di perantauan, semuanya terasa asing dan nggak mudah untuk berbaur begitu saja. Faktanya, nggak semua orang bisa dianggap sebagai teman curhat, melihat status sebagai ibu dan istri yang kini harus dijaga. Intinya sih harus selalu kuat dalam menghadapi segala cobaan.

Saat anak dan suami sakit, semua seolah seperti bencana. Seringnya, hal ini bukanlah hal yang bisa diomongkan kepada orang tua karena nggak mau mereka berpikir macam-macam

lelah

Percaya nggak kalau saat anak dan suami sakit itu bak bencana? Belum lagi kalau sedang capek-capeknya, tapi keadaan seolah memaksa untuk tetap kuat dan tangguh. Bukan hanya menunggui, tugas seorang ibu ketika anak dan suaminya sakit tentu lebih dari itu. Waktu, tenaga dan pikiran seperti tersita nggak bersisa. Bukannya mengeluh, tapi inilah fakta yang ada.

Saat situasi mendesak, rasanya terlalu susah meninggalkan anak sendirian. Hati ini kadang menjerit, ingin kembali muda dan bebas seperti dulu saja!

sedih dan bimbang

Aku seorang ibu 1 anak berusia 3 tahun. Anakku sedang aktif-aktifnya, sedangkan aku dan suami harus bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kebetulan pas pandemi gini, hampir semua daycare tutup, apalagi yang uang bulanannya murah, semuanya tutup bahkan permanen nggak beroperasi. Sedangkan kalau anakku disekolahkan di daycare yang mahal, uang kami belum cukup dan terkesan memaksakan. Alhasil, aku resign dari kerjaan dan sering hidup serba kekurangan. Kadang pengen marah, tapi ya nggak bisa karena ini sudah pilihan. Semoga aku dan suami semakin dikuatkan…

NN, 32 tahun

Semoga selalu kuat dan semangat menjalani hidup di perantauan ya, Moms! Tuhan membersamai ibu-ibu tangguh di luar sana, khususnya Moms yang bersedia beradu nasib di tanah rantau yang kadang nggak bersahabat ini. Cheers!