Cara Memilih Tayangan Berkualitas yang Bukan Sekadar Hiburan untuk Anak

Kini, memilih tayangan untuk anak perlu lebih jeli lagi lo, Moms!

20 Juni 2022

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak | Foto Belchonock oleh dari Depositphoto via ://

Tayangan anak-anak seringkali cukup membantu Moms saat si kecil rewel atau butuh hiburan. Apalagi biasanya, anak jadi lebih anteng saat nonton acara televisi atau pun tontonan streaming kesukaannya. Jadi, Moms bisa sambil mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Namun, apakah Moms yakin jika tayangan kesukaan anak cukup berkualitas?

Tayangan berkualitas tidak hanya bisa menghibur ya Moms, tapi juga bisa memberikan edukasi dan merangsang perkembangan anak. Apalagi anak usia 1-3 tahun yang sedang butuh banyak stimulasi bagi perkembangannya. Tayangan anak-anak yang sekadar menghibur justru bisa menghambat stimulasi komunikasi dan perkembangan motorik anak, lo.

Berikut ini beberapa cara memilih tayangan anak berkualitas yang bisa Moms dan Dads terapkan untuk si kecil!

 

1. Pilih tayangan sesuai umur yang direkomendasikan atau rating usia

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak
Anak nonton televisi | Foto oleh Speedo101 dari Depositphoto

Pertama, Moms dan Dads harus memilih tayangan sesuai usia anak. Pastikan tayangan memiliki rating SU (Semua Umur) untuk tayangan televisi lokal, atau G (general audience) untuk tayangan internasional. Rating ini biasanya terlihat di sebelah kanan atau kiri atas layar. Ini juga berlaku untuk tayangan streaming ya, Moms.

Rating tayangan khusus anak pun ada beberapa kategori yang perlu diperhatikan:

  • SU (Semua orang di atas usia 2 tahun
  • P (anak usia prasekolah atau 2-6 tahun)
  • A (anak usia 7-12 tahun)

 

2. Tayangan tidak hanya menghibur, tapi juga memiliki nilai edukasi

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak
Anak menonton tayangan streaming | Foto oleh Antiksu dari Depositphoto

Jika mencari tayangan hiburan anak tentu sangat mudah dijumpai ya Moms. Asal bergambar kartun saja, pasti cukup menarik perhatian anak dan bisa menghiburnya. Namun, tayangan yang menghibur belum tentu bisa mengedukasi anak, lo. Alangkah baiknya, Moms dan Dads memberikan tontonan yang memiliki edukasi baik itu nilai-nilai kehidupan sehari-hari atau contoh perilaku, mengajak anak untuk berhitung, bernyanyi dan sebagainya.

 

3. Menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami anak

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak
Anak menonton TV didampingi orang tua | Foto oleh Wavebreakmedia dari Depositphoto

Supaya anak bisa menerima pesan atau edukasi dari tayangan yang ditonton, maka tayangannya pun harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Jangan sampai Moms memberikan tontonan dengan bahasa isyarat atau bahkan tidak ada komunikasi secara verbal. Selain itu, tayangan yang menggunakan bahasa asing tapi yang tidak pernah Moms dan Dads ajarkan pada anak juga sebaiknya jangan diberikan. Ada juga tontonan kartun animasi hewan yang menggunakan bahasa hewan.

Selain tidak bisa dipahami secara edukasi, tayangan seperti ini juga bisa menghambat kemampuan komunikasi dan perkembangan bahasa anak. Tidak menutup kemungkinan anak jadi menirukan bahasa yang digunakan dalam tontonan favoritnya, parahnya lagi jika bahasa itu juga digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

 

4. Pilih tayangan yang mengajak interaksi dengan anak

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak
Anak menont televisi | Foto oleh Antos777 dari Depositphoto

Jika secara rating, edukasi dan bahasa sudah cukup baik, maka Moms dan Dads bisa memilih tayangan yang mengajak anak untuk berinteraksi. Misalnya dengan menunjuk gambar, menebak, mengingat sesuatu, mengajak melompat, dan sebagainya. Tayangan seperti ini bisa menstimulasi komunikasi dan perkembangan bahasa pada anak, lo.

 

5. Tidak mengandung kekerasan baik fisik maupun verbal

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak
Anak menonton TV didampingi orang tua
| Foto oleh VitalikRadko dari Depositphoto

Anak-anak terutama laki-laki pasti senang dengan tokoh super hero. Hal ini yang harus menjadi perhatian Moms, nih. Meski secara moral, tokoh-tokoh super hero memiliki pesan yang bagus, tapi mengandung adegan kekerasan seperti penyerangan, pemukulan, penembakan, dan sebagaianya.

Hal ini tidak baik untuk anak, karena anak bisa menilai jika kekerasan adalah hal yang wajar dan diperbolehkan. Jadi, Moms harus memastikan tayangan anak tidak mengandung adegan kekerasan fisik. Begitu pula dengan kekerasan verbal, seperti umpatan, kata-kata jorok, dan bahasa intimidasi. Ingat ya Moms, anak-anak paling bisa meniru apa yang ia lihat dan dengar.

 

6. Pilih tayangan yang memiliki perpindahan gambar yang lambat

cara memilih tayangan berkualitas untuk anak
Balita nonton kartun | Foto oleh Rajen 1980 dari Depositphoto

Melansir dari Mayoclinic, anak-anak di bawah usia 7 tahun, terutama usia 1-5 ahun lebih mudah fokus pada gambar yang bergerak cepat dan warna-warna yang mencolok. Ketika anak diberi tontonan dengan perpindahan gambar yang cepat, anak cenderung fokus mengikuti pergerakan gambar tanpa memperhatikan komunikasi di dalamnya. Jika terlalu lama dibiarkan, potensi kecanduan dan terhambatnya komunikasi bisa semakin besar.

Akibatnya anak lebih senang duduk anteng melihat tayangan di layar dari pada bermain dengan teman-teman atau aktivitas motorik kasar. Belum lagi jika kemampuan bahasanya ikut terhambat karena lebih fokus pada visual, misalnya lebih memilih diam memperhatikan layar, daripada menjawab saat Moms memanggilnya.

Lain halnya ketika anak menonton tayangan dengan perpindahan gambar yang lambat, anak cenderung punya kesempatan untuk terdistraksi atau fokusnya terpecah. Sehingga, masih bisa memperhatikan bahasa, bahkan komunikasi di luar tontonannya, misalnya saat namanya dipanggil segera menjawab, atau menghampiri sumber bunyi yang menarik perhatian meski sedang menonton televisi.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa Moms lakukan untuk memilih tayangan berkualitas untu anak. Selain 6 hal di atas, Moms dan Dads juga perlu mempertimbangkan durasi tayangan tiap episode, semakin pendek, maka semakin baik, sehingga Moms bisa lebih mudah membatasi screen time anak.